Tampilkan postingan dengan label PARASITOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PARASITOLOGI. Tampilkan semua postingan
Mengamati Entamoeba coli

Mengamati Entamoeba coli

Amoeba terdiri dari enam spesies yang hidup dalam usus besar yaitu Entamoeba coli, Entamoeba hartmani, Entamoeba histolytica, Dientamoeba fragilis, Jodamoeba butschii, Endolimax nana, sedangkan Entamoeba gimgivalis merupakan jenis amoeba yang hidup dalam mulut. Seluruh amoeba ini tidak sifatnya aman bagi tubuh manusia kecuali Entamoeba histolytica yang bersifat patogen.
Entamoeba coli penting dipelajari untuk membedakan dengan Entamoeba histolytica yang merupakan agen penyebab amoebiasis. Entamoeba coli termasuk protozoa apatogen dimana Infeksi Entamoeba coli bersifat asimptomatis. Namun parasit Entamoeba coli sering dijumpai pada infeksi Entamoeba histolytica pada penderita amebiasis. Dalam siklus hidupnya Entamoeba coli memiliki kemiripan dengan siklus hidup Entamoeba histolytica hanya saja tanpa adanya penjalaran ekstraintestinal. Infeksinya terjadi dengan menelan kista matang yang berinti 8 dan biasanya tidak mengandung vakuol glikogen dan benda kromatoid. Diagnosisnya adalah dengan ditemukannya bentuk trofozoit atau bentuk kista dalam tinja.

Morfologi dan Siklus Hidup

Entamoeba coli hidup sebagai komensal di rongga usus besar. Dalam siklus hidupnya, terdapat stadium vegetatif dan stadium kista. Morfologinya mirip Entamoeba histolytica. Morfologi dan siklus hidup Entamoeba coli adalah sebagai berikut:
  1. Stadium trofozoid 15-30 mikron, berbentuk lonjong atau bulat. Stadium ini mempunyai sebuah inti entamoeba, dengan kareosom kasar dan biasanya letaknya eksentrik. Butir-butir kromatin perifer juga kasar dan letaknya tidak merata.
  2. Ektoplasma tidak nyata, hanya tampak bila pseudopodium dibentuk. Pseudopodium lebar, dibentuk perlahan-lahan, sehingga pergerakannya lambat.
  3. Endoplasma bervakuol, mengandung bakteri dan sisa makanan tidak mengandung sel . darah merah. Stadium ini tidak dapat dibedakan dari bentuk minuta Entamoeba histolytica. Cara berkembang biaknya dengan belah pasang.
  4. Stadium trofozoid biasanya ditemukan dalam tinja lembek atau cair. Stadium kista bulat atau lonjong berukuran 15-22 mikron. Dinding kista tebal berwarna hitam. Dalam tinja biasanya kista berinti 2 atau 8. Kista yang berinti dua mempunyai vakuol glikogen yang besar dan benda kromatoid yang halus. Biasanya benda kromatoid dari kista Entamoeba coli tersebut ramping dengan ujung runcing atau tidak teratur jadi berbeda dengan benda kromatoid yang berbentuk cerutu atau liseng pada Entamoeba histolytica.
  5. Kista matang yang berinti dan biasanya tidak lagi mengandung vakuol glikogen dan benda kromatoid. Kista Entamoeba coli tidak mudah mati oleh kekeringan. Resistensi terhadap kekeringan ini mungkin bertanggung jawab atas tingginya insiden infeksi. Infeksi terjadi dengan menelan kista matang.
Adapun ciri-ciri kista Entamoeba coli:
  1. Bentuk membulat dengan ukuran 10-35 µm
  2. Kista matang berisi 8-16 inti
  3. Chromatoidal bodies berupa batang-batang langsing yang menyerupai jarum
Perbedaan Entaboma coli dan Entaboma histolyca:
Perbedaan Entamoeba histolytica Entamoeba coli
Ukuran (mikron) 20 (10-60) 25 (10-50)
Pergerakan Aktif, progresif Lambat, tidak progresif
Eritrosit dalam cytoplasma + –
Bakteri dalam cytoplasma – + +
Vacuole ± + =
Nucleus Tidak jelas terlihat Kadang-kadang jelas

Penularan

Entamoeba coli hidup sebagai komensal di rongga usus besar. Dalam daur hidupnya terdapat stadium vegetatif dan stadium kista. Morfologinya mirip Entamoeba histolytica namun Entamoeba coli tidak bersifat patogen sehingga jarang menyebabkan insiden. Akan tetapi kalau jumlahnya melebihi ambang batas maka bisa menyebabkan penyakit. Biasanya Entamoeba coli ditemukan pada infeksi Entamoeba histolytica. Dan pada umumnya, penularan terjadi karena makanan atau minuman yang tercemar oleh kista amoeba. Penularan tidak terjadi melalui bentuk trofozoit, sebab bentuk ini akan rusak oleh asam lambung. Makanan dan minuman dapat terkontaminasi oleh kista melalui cara-cara berikut:
  1. Persediaan air yang terpolusi
  2. Tangan infected food handler yang terkontaminasi
  3. Kontaminasi oleh lalat dan kecoak
  4. Penggunaan pupuk tinja untuk tanaman
  5. Hygiene yang buruk, terutama di tempat-tempat dengan populasi tinggi (asrama,penjara)
Insiden Infeksi terjadi dengan menelan kista matang. Infeksi terjadi dengan menelan kista matang. Kista matang yang berinti dan biasanya tidak lagi mengandung vakuol glikogen dan benda kromatoid. Kista Entamoeba coli tidak mudah mati oleh  kekeringan. Resistensi terhadap kekeringan ini mungkin bertanggung jawab atas tingginya insiden infeksi.

Pencegahan dan Penanganan

Pencegahan terhadap Entamoeba coli agar tidak terjangkit dalam tubuh manusia pada umumnya sama saja dengan tindakan pencegahan pada protozoa lainnya. Cara pencegahan tersebut lebih dikhususkan pada kebersihan perseorangan dan kebersihan lingkungan. Misalnya saja pada kebersihan individu mencuci tangan dengan bersih sesudah membuang air besar dan sebelum makan.  Kebersihan lingkungan sendiri misalnya memasak air minum, mencuci sayuran sampai bersih, atau memasaknya sebelum dimakan, tidak menggunakan tinja manusia untuk pupuk, buang air besar di jamban, membuang sampah di tempat sampah yang ditutup untuk menghindari lalat, serta menutup makanan untuk menghindari kontaminasi dengan lalat dan kecoa. Pencegahan terhadap infeksi Entamoeba coli dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan perseorangan dan kebersihan lingkungan. Jadi dengan menjaga kebersihan, kita dapat mencegah Entamoeba coli masuk ke dalam tubuh manusia.
Pengobatan sebenarnya tidak diperlukan karena protozoa ini nonpatogen. Akan tetapi ditemukan salah satu tanaman obat keluarga (TOGA) yaitu daun seena yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. Fraksi polisakarida daun Cassia angustifolia yang diuji dengan allogenic tumor Sarcoma-180 pada mencit, berefek positif dalam penghambatan pertumbulian Sarcoma-180. Senosida A dalam tubuh akan mengalami suatu reaksi hidrolisis enzimatik dan reduksi oleh bakteri flora usus (Entamoeba coli) menjadi rein antron. Rein antron merupakan suatu senyawa yang menginduksi sekresi air dan mencegah reabsorpsi air dalam saluran pencernaan, sehingga dapat digunakan dalam upaya penyembuhan konstipasi akut

Mengamati Giardia Lamblia

Giardiasis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa patogen yaitu Giardia lamblia atau dikenal juga sebagai Giardia intestinalis atau Giardia duodenalis atau Lamblia intestinalis. Giardia lamblia berasal dari famili Hexamitidae, subfilum Mastigophora, filum Sarcomastigophora. Patogen ini hidup berkoloni di lumen usus halus manusia dan lebih sering menyerang anak usia balita dan sekolah dibandingkan orang dewasa.
Klasifikasi ilmiah
Domain:
Eukaryota
Filum:
Metamonada
Ordo:
Diplomonadida
Famili:
Hexamitidae
Genus:
Spesies:
G. lamblia
Morfologi
Giardia lamblia memiliki 2 stadium, yaitu stadium trofozoit dan stadium kista. 
Trofozoit berukuran panjang 9-20 μm, lebar 5-15 μm. Berbentuk oval hingga ada yang berbentuk buah pear atau bentuk hati. Bentuk trofozoit spesies ini memiliki : sucking disc pada ujung anteriornya, yaitu area konkaf yang menutupi setengah dari permukaan ventral. Dua buah nuclei yang terletak simetris bilateral. Nuklei tersebut mengandung sedikit kromatin perifer namun memiliki kariosom besar yang berada di tengah. Sebuah axostyle, terdiri dari 2 axonema yang membagi dua tubuhnya. Dua buah median bodies (parabasal bodies), diduga memiliki peranan dalam proses metabolisme. Empat flagella yang terletak di lateral, 2 lateral di ventral, dan 2 terletak di kaudal. 

 gambar Tropozoit Giardia lamblia
Kista berukuran lebih kecil daripada trofozoit yaitu panjang 8-18 μm dan lebar 7-10 μm. Letak kariosom lebih eksentrik bila dibandingkan dengan trofozoit. Pada kista yang telah matur terdapat 4 buah median bodies, 4 buah nuclei, dan dapat pula ditemukan longitudinal fibers. 
 Gambar Kista Giardia lamblia
Siklus hidup 

Dalam silkus hidupnya, G. Lamblia mengalami 2 stadium, yaitu stadium trofozoit yang dapat hidup bebas di dalam usus halus manusia dan kista stadium infektif yang keluar ke lingkungan melalui feses manusia.
Tertelannya kista dari air minum dan makanan yang terkontaminasi atau dapat juga melalui kontak individu merupakan awal dari infeksi. Setelah melewati gaster, kista menuju usus halus. Ekskistasi terjadi di duodenum, setelah itu multiplikasi terjadi melalui pembelahan biner dengan interval kurang lebih 8  jam. Trofozoit menempel pada mukosa duodenum dengan menggunakan sucking disc yang dimilikinya. Enkistasi terjadi saat trofozoit masuk ke usus besar. Stadium trofozoit dan kista dapat ditemukan pada feses penderita giardiasis. Kedua hal tersebur dapat dijadikan alat untuk mendiagnosis penyakit giardiasis. Di luar tubuh manusia, G. Lamblia lebih tahan dalam bentuk kista dan dalam lingkungan lembab dapat bertahan sampai 3 bulan.
Transmisi dan Patogenesis
Giardia lamblia dapat ditemukan pada saluran gastrointestinal berbagai macam mamalia termasuk manusia. Protozoa ini dapat ditularkan melalui cara fecal-oral maupun oral-anal. Banyak sumber air seperti danau dan sungai mengandung kista protozoa ini sebagai akibat dari kontaminasi oleh feses manusia dan hewan. Transmisi G.lamblia umum terjadi pada orang yang memiliki risiko tinggi seperti anak-anak yang berada di tempat penitipan anak, wisatawan yg mengunjungi beberapa area, homoseksual, dan orang yg sering berhubungan dengan hewan-hewan tertentu.
Gejala giardiasis bervariasi dari yang asimtomatik hingga diare dan malabsorbsi. Diagnosis dengan ditemukannya kista dan trofozoit dalam feses. Metode immunofluorescece dan enzyme immuoassay sudah mulai dikembangkan untuk mendeteksi G. Lamblia dalam feses.
Pencegahan
Pencegahan dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
Mengkonsumsi air minum yang bersih yang telah menjalani pemanasan sampai 50° sehingga dapat menginaktifkan kista.
Pada umumnya G. Lamblia resisten terhadap klorin, sehingga penyaringan sangat diperlukan untuk menghilangkan kontaminasi oleh protozoa patogen ini.
Melindungi tempat persediaan air dari hospes reservoir (berang-berang dan tikus air).
Memasyarakatkan kebersihan individu (cuci tangan).
Penyediaan makanan yang bersih dan baik

Mengenal Rhizopoda Beserta Ciri, Klasifikasi, Reproduksi Dan Peranannya

Rhizopoda ialah Protozoa yang bergerak dengan kaki semu / palsu ( Pseudopodia ). Istilah Rhizopoda berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata Rhizo yang berarti akar dan kata pod yang berarti kaki. Rhizopoda disebut juga dengan Sarcodina, sedangkan istilah Pseudopodia dalam bahasa Yunani ialah Pseudes yakni palsu dan pod yang berarti kaki. Pseudopodia merupakan penjuluran sitoplasma terbentuk saat bergerak untuk mendekati sumber makanan. Pseupodia dapat muncul di permukaan sel bagian manapun.

Sitoskeleton yang terdiri dari mikrotubulus dan mikrofilamen mempunyai peranan dalam pergerakan pseupodia yang pada saat bergerak, Rhizopoda menjulurkan pseudopodia dan mengaitkan ujungnya dan kemudian sitoplasma akan lebih banyaj mengalir ke Pseudopodia. Bentuk dari Pseudopodia atau kaki semu ialah tebal dan membulat atau tipis meruncing.

Ciri-Ciri Rhizopoda ( Sarcodina )

Rhizopoda ( sarcodina ) memiliki beberapa karekteristik / ciri-ciri yang membedakan jenis protozoa lainnya. Ciri-ciri rhizopoda ialah sebagai berikut.
  • Bergerak dengan kaki semu / palsu ( pseudopodia )
  • Bersifat heterotrof
  • Ukuran tubuh sekitar 200-300 mikron
  • Umumnya hidup di air tawar atau laut
  • Bentuk yang dapat berubah-ubah atau tidak tetap
  • Ada yang bercangkang dan tidak
  • Mempunyai ektoplasma dan endoplasma
  • Mempunyai vakuola makanan dan juga vakuola kontraktil
  • Rhizopoda menelan makannya / fagosit
  • Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan diri
  • Hidup dengan bebas atau parasit
  • Pernapasan dengan cara difusi ke seluruh permukaan tubuh

Klasifkasi Rhizopoda ( Sarcodina )

Rhizopoda dibagi dalam 5 ordo antara lain sebagai berikut :

  • Ordo Labosa Ciri-Cirinya : memiliki pseudopodia ( kaki semu ) yang pendek dan tumpul serta dapat dibedakan jelas antara ektoplasma dan endoplasma.
  • Ordo Filosa Ciri-Cirinya : memiliki pseudopodia ( kaki semu ) yang halus mirip dengan benang dan juga bercabang-cabang.
  • Ordo Foraminifera Ciri-Cirinya : Pseudopodi ( kaki semu ) yang panjang dan juga halus
  • Ordo Helioza Ciri-Cirinya : Pseudopodia ( kaki semu ) yang berbentuk benang yang radien dan antar filament yang tidak pernah bersatu membentuk jala atau anyaman.
  • Ordo Radiolarian Ciri-Cirinya : Pseudopodia.

Reproduksi Rhizopoda ( Sarcodina )

Rhizopoda berproduksi secara aseksual, sedangkan reproduksi secara seksual kini belum diketahui. Reproduksi secara akseksual melalui berbagai mekanisme dengan pembelahan sel yang mengarah ke pembelahan mitosis. Namun tahap-tahap mitosis tidak tampak dengan jelas. Contohnya pada proses pembelahan sel yang terbentuk benang-benang spindel, akan tetapi membrane inti tidak pernah menghilang selama proses pembelahan. Pembelahan sel diawali dengan pembelahan inti yang selanjutnya membrane plasma semakin melekuk kea rah dalam hingga terbentuk dua sel anakan.

Perananan Rhizopoda ( Sarcodina )

Rhizopoda mempunyai peranan baik itu yang menguntungkan maupun yang merugikan dari beberapa contoh rhizopoda antara lain sebagai berikut.
  • Entamoeba Gingivalis
    Hidup pada gusi dan gigi manusia dengan memakan sisa-sisa makanan disela-sela gigi dan dapat menyebabkan kerusakan gigi dan radang gusi.
  • Entamoeba Coli
    Hidup di dalam organ tubuh yaitu usus besar ( kolon ) tidak bersifat parasit yang kadang-kadang dapat menyebabkan diare.
  • Entamoeba Histolytica
    Hidup parasit di usus manusia yang dapat menyebabkan panyakit disentri. Organisme ini dapat menyebar melalui air minum, makanan dan peralatan makanan yang terkontaminasi protozoa tersebut baik dalam bentuk sista maupun bentuk sel aktif.
  • Difflugia
    Hidup di air tawar dan mengeluarkan lendir yang menyebabkan butir, butir pasir halus dapat melekat.
  • Foraminifera
    Memiliki cangkang dari bahan organik dan kalsium karbonat yang keras. Foraminifera memiliki cangkang yang merupakan komponen sedimen lautan. Sekitar 90% Foraminifera telah menjadi fosil dan digunakan sebagai marker ( penanda ) umur batuan sedimen dan juga sebagai penunjuk sumber minyak bumi
Demikianlah pembahasan mengenai Mengenal Rhizopoda Beserta Ciri, Klasifikasi, Reproduksi Dan Peranannya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya

SEDIKIT TENTANG PARASITOLOGI

Parasitologi adalah bidang ilmu yang sangat berhuhungan dengan fenomena-fenomena ketergantungan dari satu organisme terhadap yang lainnya. Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari organisme yang hidup untuk sementara atau menetap di dalam atau pada permukaan organisme lain dengan maksud untuk mengambil sebagian atau seluruh kebutuhan makanannya serta mendapat perlindungan dari organisme lain tersebut. Organisme yang mengambil makanan serta mendapat perlindungan dari

organisme lain tersebut disebut parasit (sites artinya makanan, parasit artinya orang yang ikut makan), sedang-kan organisme yang mengandung parasit disebut hospes atau tuan rumah. Biasanya organisme yang Iebih besar merupakan hospes yang akan memberikan perlindungan serta makanan pada organisme lainnya yang lebilt kecil yang disebut parasit. Hubungan timbal balik antara parasit dengan hospes yang berguna untuk kelangsungan hidup parasit tersebut disebut parasitisme. Hubungan timbal balik ini diuraikan di bawah ini.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa parasitologi merupakan suatu disiplin ilmu yang mcmpelajari parasit, hospes, lingkungannya serta interaksi di antara komponen-komponen tersebut.

Tergantung dari garapannya, parasito-logi dibagi ke dalam beberapa bidang, meliputi bidang parasitologi medik yang menggarap parasitologi di dunia kedokteran; parasitologi veteriner di dunia kedokteran hewan; parasitologi pertanian di dunia pertanian (tumbuhan).

Parasit dapat diperankan oleh binatang atau tumbuhan. Jika yang bertindak sebagai parasit tersebut binatang, disebut zooparasit, sedangkan jika tumbuhan disebut phytoparasit. Sekarang ini yang dimaksud dengan parasit, yaitu zooparasit sehingga untuk selanjutnya parasit dibatasi pada zooparasit, sedangkan parasit yang termasuk ke dalam phytoparasit dipelajari dalam bakteriologi.

Menurut jumlah sel yang membentuknya, parasit dibagi atas: parasit satu sel disebut protozoa, sedangkan jika terdiri dari banyak sel disebut metazoa. Metazoa terbagi atas: arthropoda dan helm inths (casing). Beberapa istilah yang penting baik yang berhubungan dengan parasit, tuan mina!’ maupun hubungan timbal balik antara keduanya, diuraikan di bawah ini.

Parasit yang sama sekali tidak dapat hidup tanpa hospes disebut parasit obligat (permanen); sedangkan organisme yang hidup bebas akan tetapi suatu waktu dapat menjadi parasit disebut parasit fakultatif (opportunist), contohnya Micronema dan beberapa ameba yang hidup bebas akan tetapi pada suatu waktu dapat masuk dan membentuk koloni di dalam otak manusia, yaitu genus Acanthamoeba dan Naegleria. Untuk organisme demikian, Page (1974) menamakan amphizoic. Yang dimaksud dengan parasit temporer atau intermitten, yaitu parasit yang sebagian masa hidupnya, hidup bebas, sewaktu-waktu akan menjadi parasit, contohnya Strongyloides stercoralis. Spesies asing yang melalui intestinum dan ditemukan dalam tinja manusia dalam keadaan hidup/mati disebut parasit koprozoik atau parasit spuria (palsu); sedangkan pseudoparasit merupakan artefak yang mirip parasit, sering kali disangka sebagai parasit. Jika parasit kebetulan bersarang pada hospes yang biasanya tidak dihinggapinya disebut parasit insidentil.

Menurut tcmpat hidup parasit pada hospes, ada 2 macam parasit, yaitu ektoparasit, hidupnya pada permukaan tubuh (kulit) hospes, kebanyakan dari arthropoda; sedangkan endoparasit hidupnya di daiam tubuh hospes. Proses rnasuknya endoparasit ke dalam tubuh hospes disebut infeksi, sedangkan menempelnya ektoparasit pada tubuh hospes disebut infestasi (Neva FA, 1994). Istilah inipun scring dipergunakan dalam mikrobiologi. Dalam penggunaan yang terbatas pada parasitologi, istilah infestasi dan infeksi disebut juga parasitosis.

Mcnurut jumlahnya, hospes definitif parasit terdiri atas: homoksenosa jika dibutuhkan hanya satu hospes definitif; stenoksenosa jika dibutuhkan sedikit macam hospes dcfinitif; heteroksenosa jika dibutuhkan banyak hospes definitif.

Jika scseorang yang sudah mengandung parasit, terjadi reinfeksi dengan parasit dari spesies yang sama, disebut superinfeksi; sedangkan jika infeksi tersebut terjadi oleh parasit yang sudah ada dalam tubuh orang tersebut disebut autoinfeksi. Terkadang autoinfeksi ini mengambil jalan luar, misalnya dari anal/ perianal ke mulut melalui tangan, hal ini disebut autoinfeksi eksterna; jika masuknya secara langsung disebut autoinfeksi interim.

Beberapa parasit, pada manusia tidak menimbulkan gangguan, komensal, misalnya beberapa ameba dan flagelata usus. Dilihat dari segi kerusakan yang ditimbulkan oleh parasit, parasit dibagi dua kelompok, yaitu yang dapat menimbulkan kerusakan lokal/sistemik disebut parasit patogen, sedangkan yang tidak menimbulkan kerusakan disebut parasit apatogen.

Mengenai hospes (tuan rumah) yang menjadi tempat bagi parasit untuk menggantungkan hidup dan pembiakannya, ada beberapa istilah yang perlu diketahui. Hospes definitif (hospes terminal/akhir), yaitu manusia, hewan, atau tumbuhan yang menjadi tempat hidup parasit dewasa dan atau parasit mengadakan rcproduksi seksual. Hospes perantara (intermediate host), yaitu manusia, hewan, atau tumbuhan yang menjadi tempat parasit menyempurnakan sebagian dari siklus hidupnya dan atau tempat parasit mengadakan pembiakan aseksualnya. Tuan rumah peserta ialah hospes yang dapat juga dihuni oleh parasit tertentu walaupun sebenarnya bukan merupakan tuan rumah definitif bagi parasit tersebut. Hospes paratenik merupakan tuan rumah potensial dan di dalatnnya tidak terjadi perkembangan parasit muda; hospes itu tidak mendukung atau menghalangi parasit itu dalam menyelesaikan siklus hidupnya, misalnya Toxocara cati yang merupakan ascaris pada kucing. Jika telur yang telah matang termakan manusia maka larva keluar setelah telur menetas, akan tetapi larva ini tidak akan pernah berkembang lebih lanjut, manusia bertindak sebagai hospes paratenik. Ada hospes yang menularkan parasit pada manusia disebut vektor, biasanya yang bertindak sebagai vektor tersebut arthropoda. Ada dua jenis vektor, yaitu vektor mekanis (phorctik) dan vektor biologis. Yang dimaksud vektor pada parasitologi, yaitu vektor biologis yang sebagian siklus hidup parasitnya terjadi pada tubuh vcktor tersebut; jika dalam tubuh vektor tersebut tidak terjadi sebagian siklusnya maka disebut vektor mekanis.

Hubungan timbal balik antara dua spesies yang berbeda dan bersifat permanen disebut simbiosis (mula-mula diusulkan oleh de Bary, 1879). Ada tiga jenis simbiosis, yaitu mutualisme, komensalisme, dan parasitisme. Mutualisme jika hubungan timbal balik ini menguntungkan kedua-belah pihak; sedangkan pada komensalisme, jika salah satu untung akan tetapi yang lainnya tidak dirugikan, biasanya satu spesies Iebih kecil (yang mendapat keuntungan) dari spesies lainnya. Pada parasitisme, satu spesies (parasit) mendapat keuntungan sedangkan yang lainnya dirugikan oleh hubungan timbal balik parasit-hospes. Anderson, 1978, menyatakan bahwa pendorong kematian hospes dan/atau pcngurangan potensi reproduktif hospes adalah syarat yang penting untuk mengklasifikasikan suatu organisme bersifat parasitik atau bukan. Jika spesies parasit telah hidup bersama dengan hospesnya selama bertahun-tahun, masing-masing pasangan sudah saling menyesuaikan diri dalam banyak hal antara lain perubahan dalam metabolik yang memerlukan adanya jaringan atau cairan hospes sehingga secara metabolik, parasit sangat tergantung dari hospesnya. Hal ini ditegaskan oleh Smyth, 1996, bahwa ketergantungan parasit bersifat metabolik. Biasanya parasit ukurannya Iebih kecil akan tetapi memiliki potensi reproduksi Iebih besar daripada hospesnya.

Istilah yang penting pada parasitologi medik adalah istilah zoonosis, yaitu penyakit yang secara alamiah merupakan parasit pada hewan akan tetapi dapat berpindah kepada manusia. Dalam arti yang luas semua hewan dapat termasuk dalam definisi di atas, akan tetapi kebanyakan zoonosis hanya melibatkan penyakit pada vertebrata. Anthroponoses berarti penyakit manusia yang dapat ditularkan pada hewan. Banyak zoonoses, terutama terdapat pada hewan, jarang pada manusia, misalnya balantidiasis, fascioliasis hepatica. Sedangkan leishmaniasis, trypanosomiasis (penyakit tidur Afrika), opisthorchiasis biasa ditemukan pada hewan dan manusia.

Untuk mendapatkan pengertian fungsi serta perilaku parasit dan hospesnya, perlu diperlajari fisiologi, imunologi, dan genetika.

Pustaka
Parasitologi kedokteran:ditinjau dari organ tubuh yang diserang Oleh Djaenudin Natadisastra, dr., Sp.ParK & Prof. Dr. Ridad Agoes, MPH