Tampilkan postingan dengan label SEMESTER 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEMESTER 2. Tampilkan semua postingan

Mengamati Giardia Lamblia

Giardiasis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa patogen yaitu Giardia lamblia atau dikenal juga sebagai Giardia intestinalis atau Giardia duodenalis atau Lamblia intestinalis. Giardia lamblia berasal dari famili Hexamitidae, subfilum Mastigophora, filum Sarcomastigophora. Patogen ini hidup berkoloni di lumen usus halus manusia dan lebih sering menyerang anak usia balita dan sekolah dibandingkan orang dewasa.
Klasifikasi ilmiah
Domain:
Eukaryota
Filum:
Metamonada
Ordo:
Diplomonadida
Famili:
Hexamitidae
Genus:
Spesies:
G. lamblia
Morfologi
Giardia lamblia memiliki 2 stadium, yaitu stadium trofozoit dan stadium kista. 
Trofozoit berukuran panjang 9-20 μm, lebar 5-15 μm. Berbentuk oval hingga ada yang berbentuk buah pear atau bentuk hati. Bentuk trofozoit spesies ini memiliki : sucking disc pada ujung anteriornya, yaitu area konkaf yang menutupi setengah dari permukaan ventral. Dua buah nuclei yang terletak simetris bilateral. Nuklei tersebut mengandung sedikit kromatin perifer namun memiliki kariosom besar yang berada di tengah. Sebuah axostyle, terdiri dari 2 axonema yang membagi dua tubuhnya. Dua buah median bodies (parabasal bodies), diduga memiliki peranan dalam proses metabolisme. Empat flagella yang terletak di lateral, 2 lateral di ventral, dan 2 terletak di kaudal. 

 gambar Tropozoit Giardia lamblia
Kista berukuran lebih kecil daripada trofozoit yaitu panjang 8-18 μm dan lebar 7-10 μm. Letak kariosom lebih eksentrik bila dibandingkan dengan trofozoit. Pada kista yang telah matur terdapat 4 buah median bodies, 4 buah nuclei, dan dapat pula ditemukan longitudinal fibers. 
 Gambar Kista Giardia lamblia
Siklus hidup 

Dalam silkus hidupnya, G. Lamblia mengalami 2 stadium, yaitu stadium trofozoit yang dapat hidup bebas di dalam usus halus manusia dan kista stadium infektif yang keluar ke lingkungan melalui feses manusia.
Tertelannya kista dari air minum dan makanan yang terkontaminasi atau dapat juga melalui kontak individu merupakan awal dari infeksi. Setelah melewati gaster, kista menuju usus halus. Ekskistasi terjadi di duodenum, setelah itu multiplikasi terjadi melalui pembelahan biner dengan interval kurang lebih 8  jam. Trofozoit menempel pada mukosa duodenum dengan menggunakan sucking disc yang dimilikinya. Enkistasi terjadi saat trofozoit masuk ke usus besar. Stadium trofozoit dan kista dapat ditemukan pada feses penderita giardiasis. Kedua hal tersebur dapat dijadikan alat untuk mendiagnosis penyakit giardiasis. Di luar tubuh manusia, G. Lamblia lebih tahan dalam bentuk kista dan dalam lingkungan lembab dapat bertahan sampai 3 bulan.
Transmisi dan Patogenesis
Giardia lamblia dapat ditemukan pada saluran gastrointestinal berbagai macam mamalia termasuk manusia. Protozoa ini dapat ditularkan melalui cara fecal-oral maupun oral-anal. Banyak sumber air seperti danau dan sungai mengandung kista protozoa ini sebagai akibat dari kontaminasi oleh feses manusia dan hewan. Transmisi G.lamblia umum terjadi pada orang yang memiliki risiko tinggi seperti anak-anak yang berada di tempat penitipan anak, wisatawan yg mengunjungi beberapa area, homoseksual, dan orang yg sering berhubungan dengan hewan-hewan tertentu.
Gejala giardiasis bervariasi dari yang asimtomatik hingga diare dan malabsorbsi. Diagnosis dengan ditemukannya kista dan trofozoit dalam feses. Metode immunofluorescece dan enzyme immuoassay sudah mulai dikembangkan untuk mendeteksi G. Lamblia dalam feses.
Pencegahan
Pencegahan dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
Mengkonsumsi air minum yang bersih yang telah menjalani pemanasan sampai 50° sehingga dapat menginaktifkan kista.
Pada umumnya G. Lamblia resisten terhadap klorin, sehingga penyaringan sangat diperlukan untuk menghilangkan kontaminasi oleh protozoa patogen ini.
Melindungi tempat persediaan air dari hospes reservoir (berang-berang dan tikus air).
Memasyarakatkan kebersihan individu (cuci tangan).
Penyediaan makanan yang bersih dan baik

Apa itu Shock


Shock ialah suatu keadaan yang di sebabkan oleh  defisiensi sirkulasi akibat disparitas (ketidakseimbangan) antara volume udara dengan ruang suasana vaskuler .
            

A.  Pengertian Shock
Shock adalah kolapsnya tekanan darah arteri sistemik. Pada penurunan tekanan darah yang berat, aliran darah tidak dapat secara adekuat memenuhi kebutuhan energi jaringan dan organ. Selain itu tubuh berespons dengan mengalihkan darah menjauhi sebagiab besar jaringan dn organ agar organ-orga vital yaitu jantung, otak dan paru-paru menerima cukup darah
            
Jaringan dan organ yang terpaksa kekurangan darah tersebut dapat mengalami gangguan, terutama ginjal, saluran cerna, dan kulit. Apabila individu yang bersangkutan dapat selamat dari syok tersebut, sering terjadi gagal ginjal, ulkus saluran cerna, dan kerusakan kulit.
Shock sebenarnya suatu keadaan yang terdiri atas kumpulan gejala, jadi suatu sindrom, dan dapat bersifat primer primer atau sekunder ( true shock )

1.     Shock primer
Pada shock primer terjadi defisiensi sirkulasi akibat ruang vaskuler  membasar karena vasodilatasi yang asalnya neurogen
Ruang kapiler yang membesar mengakibatkan darah seolah-olah di tarik dari sirkulasi umum dan segera masuk ke dalam kapiler dan venula alat-alat dalam (viscera).
Peristiwa ini sering terjadi pada orang yang mengalami kecelakaan keras, rasa sangat nyeri atau rangsang yang berasal dari jaringan rusak. Juga dapat di sebabkan rasa nyeri yang sangat keras pada beberapa penyakit tertentu seperti radang akut pankreas, hernia incarcerata, atau oleh reaksi-reaksi emosi seperti keadaan takut yang mendadak, kesusahan yang sangat, karena melihat keadaan yang mengerikan seperti orang yang tidak bisa melihat darah banyak akibat luka besar. Penderita menjadi sangat pucat, pingsan, sangat lemah, denyut nadi kecil dan cepat, di setai tekanan darah yang rendah.
Biasanya shock hanya sebentar saja, kecuali apabila terdapat trauma yang keras, perdarahan, dalam hal ini dapat menyebabkan shock sekunder.

2.    Shock sekunder
Pada shock sekunder terjadi gangguan keseimbangan cairan, yang menyebabkan defisiensi sirkulasi perifer di setai jumlah volume darah yang menurun, aliran darah yang berkurang, hemokonsentrasi dan fungsi gunjal yang terganggu. Sirkulasi yang berkurang terjadi segera setelah terkena kerusakan, tetapi baru beberapa waktu sesudahnya. Oleh karena itu di sebut shock  sekunder atau delayed shock.
Gejala-gejalanya ialah rasa lesu dan lemas, kulit yang basah, kolaps vena, terutama vena-vena superfisial, pernafasan dangkal, nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah , oliguria dan kadang-kadang di setai muntah yang berwarna seperti air kopi akibat perdarahan lambung (hematemesis.

Apabila keadaan terus progresif, maka penderita menjadi apatik, kemudian stupor, coma dan akhirnya dapat meninggal.

B.  Penyebab shock
            
Tekanan darah bergantung pada produk antara curah jantung  (Kecepatan denyut jantung x volume  sekuncup. Dan TPR. Dengan demikian, segala sesuatu yang menyebabkan gangguan kecepatan drnyut jantung, volume sekuncup, atau TPR dapat menyebabkan syok. Terdapat enam penyebab utama syok, diantaranya :

1.     Shock Kardiogenetik
Dapat timbul setelah kolapsnya curah jantung, yang sering terjadi akibat infark miokardium, fibrilasi, atau gagal jantung kongestif

2.    Shock Hipovolemik
Dapat timbul apabila terjadi kehilangan volume darah sirkulasi sehingga curah jantung dan tekanan darah menurun drastis. Perdarahan dan dehidrasi dapat menyebabkan syok hipovolemik.

3.    Shock Anafilaktik
Dapat timbul setelah suatu respons alergi luas yang berkaitan dengan degranulasi sel mast dan pelepasan mediator- mediator peradangan misalnya histamin dan prostaglandin. Mediator-mediatot ini mencetuskan vasodilatasi luas sehingga TPR dan tekanan darah turun secara drastis.

4.    Shock septik
Dapat terjadi pada infeksi sistemik masif dan pelepasan  mediator-mediator peradangan vasoaktif. Zat-zat ini menyebabkan  vasodilatasi sistemik sehinnga TPR dan tekanan darah kolaps. Shock septik dapat terjadi pada infeksi oleh bakteri hematogen, atau akibat keluarnya isi saluran cerna ke dalam tubuh karena perforasi saluran cerna atau pecahnya usus buntu. Sebagian bakteri berlaku sebagai superantigen yang mampu merangsang secara cepat timbulnya shock septik

5.    Shock Neurogenik
Dapat terjadi karena hilangnya tonu vaskular secara mendadak di seluruh tubuh. Shock neurogenik dapat di timbulkan oleh cedera otak yang mengenai pusat kardiovaskular di otak, cedera kordaspinalis, atau anestesis umum yang dalam. Shock ini juga dapat terjadi akibat letupan rangsangan parasimpatis ke jantung yang memperlambat kecepatan dnyut jantung dan menurunkan rangsangan simpatis ke pembuluh darah. Salah satu conth adalah pingsan mendadak akibat gangguan emosional.

6.    Shock Luka bakar
Timbul setelah luka bakar berat yang mengenai hampir seluruh luas permukaan tubuh. Shock luka bakar adalah kombinasi antara Shock yang di sebabkan pelepasan sistemik mediator-mediator vasodilatasi yang menyebabkan penurunan TPR, dan berkurangnya volume darah akibat perembasan darah melalui membran kapiler yang secara mendadak bocor.
      Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan ini adalah :
a.    Faktor yang menyebabkan bertambahnya kapasitas ruang susunan vaskuler
b.    Faktor yang menyebabkan berkurangnya volume darah
C.  Patogenesis Shock

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya disaparitas antara volume darah dan volume ruang darah ialah :

1.     Volume darah berkurang akibat permeabilitas kapiler yang bertambah secara menyeluruh, sehingga cairan keluar dari pembuluh-pembuluh dan kemudian masuk ke dalam jaringan. Akibat keluarnya cairan maka terjadilah pengentalan (hemokonsentrasi) darah.
2.    Volume darah yang berkurang akibat darah menghilang secara langsung pada luka-luka akibat suatu pembedahan, atau menghilangnya cairan akibat diare dan muntah-muntah yag banyak.
3.    Volume darah yang mengalir berkurang akibat pelebaran kapiler dan venula pada alat-alat dalam, sehingga darah seolah-olah di tarik atau diisap dari sirkulasi oleh pembuluh-pembuluh yang melebar, sehingga darah yang menglir kembali ke dalam jantung berkurang. Cardiac output dan volume darah yang beredar dalam sirkulasi pun berkurang
            
Bila volume darah berkurang, maka jumlah darah yang megalir dalam jaringan pun menjadi sedikit, sehingga mengakibatkan anoxia jaringan. Akibat anoxia, kapiler darah menjadi rusak, terjadi atoni, dilatasi disertai permabilitas yang bertambah.
            
Selain itu terjadi pula statis dalam pembuluh –pembuluh, sehingga maki banyak darah meresap keluar dari perdarahan, dengan demikian terjadilah circulus vitiosus sehingga disaparitas antara volume darah dan ruang makin lama makin besar.
            
Jika shock berlangsung terus, maka akhirnya tercapai suatu stadium yang tidak dapat pulih meskipum di beri pengobatan yang adekuwat, yaitu dinamai ’irreversible stage of shock’.
            
Pada permulaan shock dalam tubuh timbul berbagi usaha untuk mengkompensasi dan mengurangi akibat-akibat menurunnya volume darah dengan jalan menguncupkan (vasokontraksi) arteriol-ateriol yang terjadi secara secara neurogen atau humoral. Hal ini dapat berlangsung karena terdapat prossoreceptor pada berbagai tempat tertentu (glomus caroticus) dan hormone adrenalin yang di kelurkan oleh kelenjar adrenal. Pada permulaan shock (intinal stage) yang di tibulkan secara eksperimental, dapat di temukan vaseoxcitor material (VEM) dalam darah.
            
Faktor ini berasal dari berasal dari ginjal yang hipoksik dan dapat mempercepat reaksi arteriol terhadap adrenalin.
            
Bila usaha kompensasi tidak berhasil sehingga terjadi stadium dekompensasi (decompensatory stage of shock ) dan di sertai hipotensi yang terus menerus maka VEM tidak dibentuk lagi dan muncullah suatu factor lain, yaitu vasodepressor material (VDM). Zat yang di bentuk oleh hati, limpa dan otot-otot dan di buahi Inaktif pada hati.
            
Tetapi pada stadium dekomprensasi, hati menjadi hipotoksis, karena itu tidak dapat mengaktifkan VDM. Jadi VDM makin bertimbun dalam darah. VDM menyebabkan pembuluh darah menjadi refrakter, artinya tidak memberikan respons, terhadap adrenalin, sehingga ruang darah tetap besar. Inilah yang mengakibatkan disaparitas antara ruang dan volume darah, sehingga shock makin progresif dan menjadi irreversible.
            
Pada percobaan binatang juga dapat ditemukan suatu factor lain yang bersipat bakteril dan berhubungan dengan shock ireversibel, berupa toksin yang dilepaskan dalam darah dan menimbulkan kolaps pembuluh darah. Pada shock traumatik dianggap bahwa dalam darah terdapat zat tertentu, yang terjadi akibat autolysis jaringan, bersal dari daerah yang terkena trauma. Zat ini bersipat toksik dan menyebabkan permeabilita kapiler bertambah. Hal ini ditambahkan lagi dengan pengaruh neurogen akibat rasa nyeritik misalnya ditemukan pada keadaan yan dimana crusn syndrome”, yang terjadi pada penderita yang menderita kerusakan keras akibat kecelakaan pada anggota tubuh. Terkenal ialah korban erangan udara pada waktu perang dengan kerusakan pada otot-otot.
            
Pada luka bakar yang luas dibentuk berbagai substansi tertentu akibat  kerusakan jaringan yang terkena dan elain itu terjadi pula kehilangan plasma.  Pada pembedahan, shock mungkin terjadi karena kombinasi dari pad anestesi ( akibatnya), kehilagan plasma/darah, reaksi emosionil dan zat yang dibentuk oleh trauma lebih. Mengenai shock akibat pendarahan telah disinggung terlebih dahulu. Juga ditemukan banyk kesamaan akibat perdarahan dan shock. Memng shock sekunder dapat di perkera oleh perdarahan, oleh karena itu sering digunakan istilah shock hemoragik. Shock juga dapat terjadi akibat infeksi yang keras seperti pada pepsis, dan dinamakan shock septik. Shock akibat defisiensi fungsi jantung dinamai shock kardial.
            
Dapat terjadi karena misalnya terdapat penyimoanan areria coronaria, sehinga terjadi infark myocard, sehingga terjadi infark myocard. Karena muka output jantung berkurang, darah yang mengalir berkurang, sehingga terjadi anoxia jaringan.

D.  Perubahan Morfologic
            
Perubahan-perubahan akibat shock biasanya terdiri atas ganggun sirkulasi, degenerasi  dan nekrosis pada ber bagai alat tubuh. Perubahan akibat gangguan sitkulasi berupa hiperemi dalam kapiler dan vena alat-alat tubuh dalam thorax dan abdomen, petechiae dalam rongga-rongga serosa dan edema alat-alat lain. Paru-paru sangat sembab dan terbendung, kadan-kadang diperkeras lagikarena tibul pneumonia sekunder atau  terminal.
            
Alat-alat saluran cerna juga heperemik, sembab, kadang-kadang diseetai perdarahan atau tukak-tukak. Dalam rongga saluran pencernaan mungkin dapat ditemukan cairan merah atau coklat akibat perdarahan lambung. Pada  alat-alat dalam dapat ditemukan berbagai tingkat degenerasi dan nekrosis, terutama ginjal, hati, jantung dan kelenjar adrenal. Sarang-sarang nekrosis juga ditemukan pada kelenjar limfe, limpa dan pancreas.
E.  Respons baroreseptor terhadap shock
   
Pada permulaan shock, reflex-refleks baroreseptor di aktifkan dan tubuh mencoba mengkompensasi penurunan tekanan darah yang drastic. Apabila penyebab shock terus berlangsung, maka kompensasi menjadi tidak adekuat dan kemunduran kondisi berbgai organ akan terus berlanjut termasuk paru, jantung dan otak. Dengan memburuknya keadaan jantung dan paru, timbulah lingkaran setan. Oksigenisasi dan curah jantung secara progresif menurun dan syok menjadi semakin buruk sehingga dalam waktu singkat menjadi irre4versibel. Syok irreversible menyebabkan kematian.

F. Gambaran Klinis

Manifestasi spesifik akan bergantung pada peyebab syok, tetapi semua, kecuali syok neurogenik, akan mencakup :
·         Kulit yang dingin dan lembab
·         Pucat
·         Peningkatan kecepatan denyut jantung dan pernafasan
·         Penurunan drastic tekanan darah
·         Individu dengan syok neurogenik akan memperlihatkan kecepatan denyut jantung yang normal
·         atau melambat, tetapi akan hangat dan kering apabila kulitnya diraba.
G.  Komplikasi

·         Kegagalan multi organ akibat penurunan aliran darah dan hipoksia jaringan yang berkepanjangan
·         Sindrom distress pernafasan dewasa akibat destruksi pertemuan alveolus kapiler karena hipoksia
·         Koogulasi intravascular diseminta akibat hipoksia dan kematian jaringan yang luas sehingga terjadi pengaktifan berlebihan jenjang koagulasi.
H.  Penatalaksanaan

·         Penyebab shock harus diidentifikasi dan di atasi apabial mungkin
·         Perlu dilakukan penggantian volume plasma, kecuali untuk shock kardiogenik. Bahan yang digunakan sebagai pengganti bergantung pada penyebab shock.
·         Mungkin di perlukan suplemen oksigen atau ventilasi artificial.

Demikianlah pembahasan mengenai Apa itu Shock? semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

sumber

Mengenal Rhizopoda Beserta Ciri, Klasifikasi, Reproduksi Dan Peranannya

Rhizopoda ialah Protozoa yang bergerak dengan kaki semu / palsu ( Pseudopodia ). Istilah Rhizopoda berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata Rhizo yang berarti akar dan kata pod yang berarti kaki. Rhizopoda disebut juga dengan Sarcodina, sedangkan istilah Pseudopodia dalam bahasa Yunani ialah Pseudes yakni palsu dan pod yang berarti kaki. Pseudopodia merupakan penjuluran sitoplasma terbentuk saat bergerak untuk mendekati sumber makanan. Pseupodia dapat muncul di permukaan sel bagian manapun.

Sitoskeleton yang terdiri dari mikrotubulus dan mikrofilamen mempunyai peranan dalam pergerakan pseupodia yang pada saat bergerak, Rhizopoda menjulurkan pseudopodia dan mengaitkan ujungnya dan kemudian sitoplasma akan lebih banyaj mengalir ke Pseudopodia. Bentuk dari Pseudopodia atau kaki semu ialah tebal dan membulat atau tipis meruncing.

Ciri-Ciri Rhizopoda ( Sarcodina )

Rhizopoda ( sarcodina ) memiliki beberapa karekteristik / ciri-ciri yang membedakan jenis protozoa lainnya. Ciri-ciri rhizopoda ialah sebagai berikut.
  • Bergerak dengan kaki semu / palsu ( pseudopodia )
  • Bersifat heterotrof
  • Ukuran tubuh sekitar 200-300 mikron
  • Umumnya hidup di air tawar atau laut
  • Bentuk yang dapat berubah-ubah atau tidak tetap
  • Ada yang bercangkang dan tidak
  • Mempunyai ektoplasma dan endoplasma
  • Mempunyai vakuola makanan dan juga vakuola kontraktil
  • Rhizopoda menelan makannya / fagosit
  • Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan diri
  • Hidup dengan bebas atau parasit
  • Pernapasan dengan cara difusi ke seluruh permukaan tubuh

Klasifkasi Rhizopoda ( Sarcodina )

Rhizopoda dibagi dalam 5 ordo antara lain sebagai berikut :

  • Ordo Labosa Ciri-Cirinya : memiliki pseudopodia ( kaki semu ) yang pendek dan tumpul serta dapat dibedakan jelas antara ektoplasma dan endoplasma.
  • Ordo Filosa Ciri-Cirinya : memiliki pseudopodia ( kaki semu ) yang halus mirip dengan benang dan juga bercabang-cabang.
  • Ordo Foraminifera Ciri-Cirinya : Pseudopodi ( kaki semu ) yang panjang dan juga halus
  • Ordo Helioza Ciri-Cirinya : Pseudopodia ( kaki semu ) yang berbentuk benang yang radien dan antar filament yang tidak pernah bersatu membentuk jala atau anyaman.
  • Ordo Radiolarian Ciri-Cirinya : Pseudopodia.

Reproduksi Rhizopoda ( Sarcodina )

Rhizopoda berproduksi secara aseksual, sedangkan reproduksi secara seksual kini belum diketahui. Reproduksi secara akseksual melalui berbagai mekanisme dengan pembelahan sel yang mengarah ke pembelahan mitosis. Namun tahap-tahap mitosis tidak tampak dengan jelas. Contohnya pada proses pembelahan sel yang terbentuk benang-benang spindel, akan tetapi membrane inti tidak pernah menghilang selama proses pembelahan. Pembelahan sel diawali dengan pembelahan inti yang selanjutnya membrane plasma semakin melekuk kea rah dalam hingga terbentuk dua sel anakan.

Perananan Rhizopoda ( Sarcodina )

Rhizopoda mempunyai peranan baik itu yang menguntungkan maupun yang merugikan dari beberapa contoh rhizopoda antara lain sebagai berikut.
  • Entamoeba Gingivalis
    Hidup pada gusi dan gigi manusia dengan memakan sisa-sisa makanan disela-sela gigi dan dapat menyebabkan kerusakan gigi dan radang gusi.
  • Entamoeba Coli
    Hidup di dalam organ tubuh yaitu usus besar ( kolon ) tidak bersifat parasit yang kadang-kadang dapat menyebabkan diare.
  • Entamoeba Histolytica
    Hidup parasit di usus manusia yang dapat menyebabkan panyakit disentri. Organisme ini dapat menyebar melalui air minum, makanan dan peralatan makanan yang terkontaminasi protozoa tersebut baik dalam bentuk sista maupun bentuk sel aktif.
  • Difflugia
    Hidup di air tawar dan mengeluarkan lendir yang menyebabkan butir, butir pasir halus dapat melekat.
  • Foraminifera
    Memiliki cangkang dari bahan organik dan kalsium karbonat yang keras. Foraminifera memiliki cangkang yang merupakan komponen sedimen lautan. Sekitar 90% Foraminifera telah menjadi fosil dan digunakan sebagai marker ( penanda ) umur batuan sedimen dan juga sebagai penunjuk sumber minyak bumi
Demikianlah pembahasan mengenai Mengenal Rhizopoda Beserta Ciri, Klasifikasi, Reproduksi Dan Peranannya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya

Cara Pembuatan Preparat Sederhana dan Menurut Gram

Kebanyakan bakteri dapat diwarnai dengan pengecatan sederhana dan pengecatan gram atau pengecatan bertingkat, tetapi beberapa genus anggota dari genus mycobacterium bersifat resisten dan hanya dapat dilihat dengan metoda tahan asam.

Pewarnaan sederhana merupakan teknik pewarnaan yang paling banyak digunakan. Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Oleh larena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian mikrobiologi. Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah adanya ikatan ion antara komponen seluler dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarna. Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan pewarna asam dan pewarna basa.

Pewarnaan sederhana, sebelum dilakukan pewarnaan dibuat ulasan bakteri di atas objek gelas yang kemudian difiksasi. Jangan menggunakan suspense bakteri yang terlalu padat, tapi jika suspense bakteri terlalu encer, maka akan diperoleh kesulitan saat mencari bakteri dengan mikroskop.
 Fiksasi bertujuan untuk mematikan bakteri dan meletakkan sel bakteri pada objek gelas tanpa merusak struktur selnya (Campbell dan Reece, 2005).
Sel-sel mikroorganisme yang tidak diwarnai umumnya tampak hampir tembus pandang (transaparan) bila diamati dengan mikroskop cahaya biasa hingga sukar dilihat karena sitoplasma selnya mempunyai indeks bisa yang hampir sama dengan indeks bias lingkungannya yang bersifat cair.kontras antara sel dan latar belakangnya dapat dipertajam dengan cara mewarnai sel-sel tersebut dengan zat-zat warna (Hadioetomo, 1990).

Pewarnaan secara gram adalah pewarnaan yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam laboratorium mikrobiologi dan klasifikasi bakteri, karena merupakan tahapan penting dalam langkah awal identifikasi. Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan lemak pada membrane sel bakteri. Jenis bakteri berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram positif dan gram negative. Bakteri gram positif mempunyai dinding sel tebal dan membrane sel selapis. Sedangkan bakteri gram negative mempunyai dinding sel tipis yang berada diantara dua lapisan membrane sel. Karena kemampuannya membedakan suatu kelompok bakteri tertentu dari kelompok lainnya, maka pewarnaan ini juga disebut pewarnaan diferensial atau pewarnaan bertingkat. Prinsipnya bakteri dengan pewarnaan utama yaitu dengan Kristal violet akan berwarna ungu, melalui fiksasi warna dengan lugol akan menguatkan pelekatan warna utama, penambahan alcohol akan melunturkan atau memucatkan zat warna utama sehingga pada sel gram negative sel menjadi tidak berwarna tetapi pada sel gram positif tidak mengalami pelunturan sehingga tetap berwarna ungu. Pada pemberian pewarnaan tandingan yang berbeda dengan pewarna utama yaitu fucin basa menebabkan bakteri gram negative akan menyerap warna tersebut menjadi merah.

Teknik pewarnaan bukan pekerjaan yang sulit tapi perlu ketelitian dan kecermatan bekerja serta mengikuti aturan dasar yang berlaku yakni sebagai berikut: mempersiapkan kaca objek. Kaca objek ini harus bersih dan bebas lemak, untuk membuat lapisan dari bakteri yang diwarnai. Mempersiapkan preparat , preparat yang baik adalah yang tipis dan kering, terlihat seperti lapisan yang tipis. Preparat ini dapat berasal dari biakan cair atau padat. Biakan cair suspense sel sebanyak satu atau dua mata jarum inokulasi diletakkan pada kaca objek lalu preparat pada kaca objek lebar dan biakan mongering dengan cara fiksasi.

Biakan padat bakteri yang kulturnya pada media padat tidak dapat langsung dibuat preparat seperti dari biakan cair, tapi harus diencerkan dahulu, dengan cara meletakkan setetes air pada kaca objek lalu dengan jarum inokulasi diambil bakteri dari biakan padat, biarkan mongering atau dilakukan dengan cara fiksasi.

Alat dan Bahan
    Alat dan bahan yang kita butuhkan dalam pembuatan preparat ini diantaranya :

       1.      Kaca objek
       2.      Biakan dari e.coli pada agar kaldu miring
       3.      Jarum inokulasi
       4.      Gelas kimia berisi air dengan sebatang pengaduk kaca
       5.      Lampu Bunsen
       6.      Kertas saring
       7.      Mikroskop
       8.      Kapas
       9.      Larutan lugol
   10.      Alcohol 90%
   11.      Gelas kimia 100 mL
   12.      Stopwatch
   13.      Fuchin basa

Praktikum

a.    Pembuatan preparat sederhana

                1.      Mensterilkan kaca preparat dengan alcohol 90%
                2.      Mengambil akuades dengan pipet tetes
                3.      Meletakkan diatas preparat
                4.      Mengambil biakan bakteri menggunakan jarum ose, lakukan secara steril
                5.      Meletakkan biakan ke dalam preparat hingga rata
                6.      Melakukan fiksasi terhadap preparat
                7.      Meneteskan Kristal violet dan fucin basa ke atas preparat
                8.      Menunggu hingga 1 menit
                9.      Membilas dengan akuades
            10.      Mengamati dengan mikroskop.

b.   Pembuatan preparat berwarna menurut gram

                1.      Melakukan hal ang sama (1-6) pada pembuatan preparat sederhana
                2.      Meneteskan gram A (Kristal violet) ke atas preparat tunggu hingga 1 menit

                3.      Membilas dengan akuades
                4.      Meneteskan gram B (larutan lugol) ke atas preparat tunggu hingga ¾ menit
                5.      Membilas dengan akuades
                6.      Meneteskan gram C (alcohol) ke atas preparat tunggu hingga 1 menit
                7.      Membilas dengan akuades
                8.      Meneteskan gram D (fucin basa) ke atas preparat, tunggu hingga 3 menit
                9.      Membilas dengan akuades
              10.      Mengamati di mikroskop.


Analisis dan Pembahasan

           Pada praktikum ini kita membuat preparat bakteri, sebelum membuat preparat bakteri usahakan semua alat dan media yang digunakan tersebut sudah steril. Sebelum memindahkan bakteri ke kaca objek kita harus memijarkan dulu jarum ose dan tabubg reaksi bakteri, setelah itu ambil sedikit saj bakteri dari biakan induk bakteri lalu gesekkan pada kaca objek secara hati-hati. Kalu bakteri terlalu tebal tetesi dengan air, dan sebarkan secara merata.

Sel bakteri berukuran sangat kecil dan tebal lapisan air tipis agar bakteri dengan mudah dapat diidentifikasi. Teknik yang digunakan dalam pembuatan preparat ada berbagai macam tergantung pada specimen dan penelitian yang dibutuhkan, antara lain fiksasi yaitu suatu metode persiapan untuk menyiapkan suatu sampel agar tampak realistic dengan menggunakan Kristal violet.

Tujuan dari pewarnaan adalah untuk memudahkan melihat bakteri dengan mikroskop, memperjelas bentuk dan ukuran bakteri seperti dinding sel dan vakuol, menghasilkan sifat-sifat fisik dan kimia ang khas dari pada bakteri dengan zat warna serta meningkatkan kontras mikroorganisme dengan sekitarnya.

Ada beberapa factor yang memepngaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, pelunturan warna, substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Pewarnaan gram pertama kali mulai dikembangkan pada tahun 1884 oleh ahli histology yaitu Cristian Gram (Capucino dan Shesman, 1983).

Pewarnaan sederhana merupakan teknik pewarnaan yang paling banyak digunakan. Disebut sederhana karena hanya menggunakan atu jenis zat warna untuk mewarnai organism tersebut. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan-pewarnaan sederhana karena sitiplasmanya bersifat basofilik (suka air dan basa). Pada zat warna basa, bagian yang berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai muatan positif. Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan dalam memberikan zat warna memiliki muatan negative. Zat warna basa lebih banyak digunakan karena muatan negative banyak ditemukan pada permukaan sel. Zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersidat alkalin. Dengan pewarnaan sederhana dapat mengetahui bentuk dan rangkaian sel-sel bakteri. Pewarna basa yang biasa digunakan untuk pewarnaan sederhana adalah Kristal violet dan fucin basa.

Pada pewarnaan sederhana menggunakan satu macam pewarnakristal violet untuk objek gelas yang pertama dan fucin basa untuk objek gelas yang kedua, sehingga ketika diamati dengam menggunakan mikroskop maka pada bakteri e.coli akan terlihat berwarna biru keungu-unguan untuk objek gelas yang pertama dengan Kristal violet, pada objek gelas kedua yaitu dengan fucin basa e.coli terlihat berwarna ungu merah.

Pewarnaan gram atau bertingkat menghasilkan dua kelompok besar bakteri, yaitu gram positif yang berwarna ungu dan gram negative yang berwarna merah. Adanya gram positif dan gram negative disebabkan oleh perbedaan pandangan dinding sel bakteri. Kandungan senyawa peptidoglikan pada dinding sel gram positif lebih tebal dibandingkan pada dinding gram negative. Zat warna yang digunakan pada pengecetan gram meliputi Kristal violet, lugol, alcohol, dan fucin basa. Fungsi dari masing-masing zat warna tersebut adalah:

       1.      Kristal violet

Berwarna ungu dan merupakan pewarna primer (utama) yang akan memberikan warna mikroorganisme target. Kristal violet bersifat basa sehingga mampu berikatan dengan sel mikroorganisme yang bersifat asam, dengan begitu sel mikroorganisme yang transparan akan terlihat berwarna ungu.

       2.      Lugol

Merupakan pewarna mordan, yaitu pewarna yang berfungsi memfiksasi pewarna primer yang diserap mikroorganisme target. Pemeberian lugol pada pengecatan gram ini dimaksudkan untuk memperkuat pengikat warna oleh bakteri.

       3.      Alcohol
Merupakan solven organic yang berfungsi untuk membilas atau melunturkan kelebihan zat warna pada sel bakteri. Pemberian alcohol pada pengecatan ini dapat mengakibatkan terjadinya dua kemungkinan:
  • Mikroorganisme tetap berwarna ungu kebiruan
  • Bakteri mejadi tidak berwarna

       4.      Fucin basa

Merupakan pewarna tandingan atau pewarna sekunder. Zat ini berfungsi untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan pewarna utama setelah perlakuan dengan alcohol. Dengan kata lain memberikan warna pada mikroorganisme non target.

Pada pewarnaan gram ini ditemukan bahwa bakteri e.coli setelah diamati dengan menggunakan mikroskop terlihat berwarna ungu kebiruan. Menurut praktikum bakteri e.coli merupakan bakteri gram positif karena dapat mempertahankan warna ungunya. Tetapi menurut referensi e.coli merupakan bakteri gram negative yang tidak mempertahankan warna ungunya sehingga berubah warna menjadi merah.

Kesimpulan

              Dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa preparat dari kultur cair. Preparat dibuat dari kultur e.coli. Teknik pewarnaan untuk identifikasi e.coli dilkukan dengan 2 cara yaitu pewarnaan sederhana dan pewarnaan gram/bertingkat. Berdasarkan teknik pewarnaan tersebut dapat disimpulkan bahwa e.coli merupakan gram negative menurut referensi tetapi menurut praktikum merupakan gram negative.